Kategori JEMPOL

Search

Type your search keyword, and press enter

Hubungi Robby JEMPOL

Name

Email *

Message *

Ayo Masukkan Bisnis Anda di ...

Daftar Info dan Ide Bisnis JEMPOL

Cara Cepat UMROH bersama Winatour  -  http://www.robbyjempol.com/2016/02/cara-cepat-umroh-bersama-winatour.html Susu Kambing Etawa ETA...

Tuesday, March 18, 2014

SUKSES BERAWAL DARI “JEMPOL” (Sukses Mulia Versi Obama)

Oleh: Ribut Achwandi (Riboet Gondrong)

Disampaikan di hadapan peserta Seminar Sukses Mulia dalam rangka Festival SuksesMulia
di Gedung H. A. Djunaid Convention Center, Pekalongan, Sabtu 13 Juli 2013.


Saya merasa bahwa saya bukanlah orang yang tepat untuk menyampaikan materi tentang apa itu sukses mulia? Bagaimana seseorang bisa sukses dan mulia? Sebab,saya merasa bahwa saya bukanlah orang yang sukses. Tetapi, karena saya diamanati untuk menyampaikan materi ini, maka apa yang saya lakukan pada hari ini adalah mengajak kita semua, saya dan hadirin untuk sama-sama belajar tentang kesuksesan dan belajar menjadi orang sukses.

Saya yakin, bahwa dari sekian banyak hadirin yang ada di hadapan saya sebenarnya adalah orang yang sukses. Maka dari itu, izinkan saya dengan kelancangan saya ini, mengajak Anda untuk saling belajar, ngangsu kawruh bab kesuksesan. Tentunya, dalam kapasitas saya yang terbatas, saya akan membahas kesuksesan itu dari terminologi yang saya pahami. Jika, ada dari hadirin yang lebih tahu, maka saya sangat berharap kita bisa saling berbagi.

Mungkin kita tidak pernah percaya bahwa salah satu modal rahasia suksesnya Presiden Amerika Serikat, Barack Obama adalah jempol (ibu jari). Tetapi, itulah kenyataannya, jempol Obama menjadi fenomena bagi dunia politik Amerika saat itu.

Meski demikian, apa yang dilakukan Obama dengan jempolnya bukanlah hal klenik, atau bahkan sebagai sesuatu yang di luar nalar. Bahkan, kalau kita simak secara saksama di situs-situs jejaring sosial, khususnya facebook, pernahkan kita pikirkan mengapa hanya ada jempol di sana? Kok tidak yang lain? Ada misteri apa di balik jempol?

Sebagaimana diberitakan oleh beberapa media di Amerika, jempol Obama pernah menjadi sebuah fenomena di kalangan politisi Amerika, terutama saat ia harus berhadapan dengan kompetitor politiknya yang sama-sama menjadi calon Presiden, Mitt Romney dalam sebuah debat publik calon presiden.

Obama, kala itu menggunakan ibu jarinya untuk menunjuk Romney. Tentu, hal itu dinilai oleh publik Amerika sebagai kejanggalan. Tetapi, hal itu mampu memberikan sugesti pada publik Amerika pada waktu itu, bahwa Obama dipandang sebagai seorang politisi yang rendah hati dan mampu menganggap lawan sebagai kawan. Setidaknya, hal itu mencerminkan bahwa Obama menunjukkan sikap respek pada lawan mainnya.

Bahkan seorang penulis buku budaya asal Inggris, Edward L Fox menganggap Obama adalah seorang Presiden Amerika yang njawani, dia adalah Raja Amerika. Sebab, bagaimanapun seorang lawan pada dasarnya adalah kawan yang dapat memberi nasihat pada kita tentang hal-hal buruk yang — mungkin tidak kita sadari — ada pada kita. Lalu,yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana awalnya Obama bersikap demikian?

Adalah sang ibunda tercinta, Dunham, yang pada mulanya mengajari Obama agar menggunakan ibu jari untuk menunjuk orang lain. Dunham adalah seorang antropolog yang membidangi studi tentang pembangunan desa. Selama hidup di Indonesia, Dunham juga telah banyak melakukan penelitian tentang budaya masyarakat Indonesia, hingga akhirnya jatuh cinta pada salah satu bentuk budaya masyarakat Indonesia, yakni Jawa.

Dalam pandangan Dunham, budaya Jawa merupakan sebentuk budaya masyarakat yang adem ayem. Oleh sebab itu, ia katakan pula bahwa siapapun yang telah mengunjungi pulau Jawa akan tahu nilai besar orang Jawa, yakni tempat bagi mempertahankan sikap tenang, hubungan sosial yang harmonis, dan tidak pemarah. Rasa cinta itulah yang pada gilirannya membuat Dunham menganggap perlu pula ditanamkan pada putranya dengan memberi dukungan pada Obama untuk belajar tentang budaya Jawa, yang tentunya juga belajar tentang falsafah hidup orang Jawa.

Dari situ pula, kemudian Obama banyak mengadopsi nilai-nilai falsafah hidup orang Jawa, yang salah satunya adalah penggunaan ibu jari untuk menunjuk orang lain/lawan bicara. Dalam budaya Jawa, menunjuk orang dengan menggunakan jari telunjuk dinilai kurang sopan dan kurang santun, sebab pada saat itu orang yang demikian dianggap sebagai orang yang tinggi hati dan menganggap remeh lawan bicara.

Prinsip hidup orang Jawa adalah menempatkan orang lain, bahkan musuh sekalipun sebagai orang yang perlu dihormati. Tetapi, bukan dalam rangka menjadikan diri kita sebagai seorang penjilat, sebab penghormatan terhadap orang lain atau bahkan musuh itu, dalam falsafah hidup orang Jawa harus dilakukan dengan rasa tulus, sebagai sikap dan sifat ‘andhap asor’ (rendah hati).

Sikap rendah hati tidak sama dengan rendah diri. Di dalam sikap rendah hati terkandung maksud, seseorang tidak ingin mengunggulkan diri ‘adigang, adigung, lan adiguna’, meski ia memiliki kemampuan lebih. Oleh sebab itu, orang yang ‘andhap asor’ tidak mudah tergoda dengan puji-pujian.

Sebab, musuh sejati bagi kesuksesan yang mulia adalah pujian, bukan kegagalan, dan kegagalan yang sesungguhnya adalah ketika kita puas dipuji-puji. Jokowi (Joko Widodo) adalah salah seorang yang sukses dengan prinsip itu. Bahkan, meski ia sukses memenangi Pilkada Gubernur DKI Jakarta, Jokowi masih saja tampil sebagai orang biasa-biasa saja. Dalam sebuah seminar tentang kewirausahaan baru-baru ini di Jakarta, Jokowi mengatakan bahwa dirinya belum menjadi orang sukses.

Di lain hal, orang Jawa dalam sejarah kebudayaannya adalah sebuah bangsa yang tidak mengenal istilah musuh. Sebab, dalam prinsip hidup orang Jawa hanya dikenal istilah ‘paseduluran’, ‘paguyuban’, atau ‘patembayan’. Maka dari itu, orang Jawa sangat bisa melakukan akulturasi budaya. Selalu bisa menerima setiap budaya yang dibawa oleh para pendatang, sehingga makin memperkaya khazanah kebudayaan yang dijalani oleh orang Jawa. Di sisi lain, hal demikian juga menunjukkan bahwa orang Jawa dengan falsafah Jawanya adalah orang yang tahan banting. Bukan karena kesaktiannya, bukan pula karena kehebatannya, karena tujuan hidup orang Jawa bukanlah kasekten, melainkan kamukten dan kamulyan.

Ajaran falsafah hidup Jawa pada hakikatnya telah mengajarkan tentang keuletan. Di dalamnya termaktub pula ajaran agar kita senantiasa bisa melakukan kerja-kerja cerdas, mencipta karya bukan sebatas melakukan sebuah rutinitas yang kemudian ditradisikan menjadi ritual. Orang Jawa percaya bahwa kerja hanyalah sarana bukan sebuah pencapaian atau tujuan. Kerja adalah sarana untuk memroses diri agar dapat mencipta karya dalam pemahaman karya sebagai daya olah nalar, rasa,karsa, dan cipta.

Empat pilar inilah yang sebenarnya terus perlu diolah agar karya menjadi berguna. Dan saat karya itu berguna, itulah kesuksesan yang mencapai kata mulia. Sebuah cita rasa sukses yang menuju pada kata mulia.

Pada akhirnya, sebelum saya menuntaskan pembicaraan ini, saya ingin mengajak pada semua untuk memeriksa hal-hal yang terlewat oleh kita. Bahwa ternyata ajaran tentang “jempol” sudah dipakai oleh dunia. Dalam beragam temuan teknologi canggih seperti sekarang ini, jempol telah banyak digunakan di berbagai macam fasilitas, seperti cap jempol sebagai pengganti tanda tangan kita, presensi kehadiran di beberapa kantor (finger print), di facebook, youtube, blog, dan lain sebagainya.

Dan betapa mudah kita memanfaatkan jempol-jempol itu, terutama di media sosial, untuk menyukai status atau komentar orang lain. Tetapi, dalam kehidupan nyata apakah kita mudah untuk menjempol orang lain? Padahal, di dalam jempol ada energi positif. Seseorang tak harus memberikan kritik pedas terhadap pernyataan orang lain, cukup dengan jempol, insya Allah ia pun akan menjadi sadar bahwa apa yang dilakukannya barangkali adalah keliru.

Dan seseorang tidak akan jatuh miskin hanya karena menjempol orang lain bukan? Obama, bahkan yang merupakan keturunan budak sekalipun tak sungkan memberi jempol pada lawan politiknya di depan publik. Akhirnya, selamat berbagi jempol untuk kesuksesan kita semua. Jempol adalah cinta, energi positif yang perlu selalu kita pancarkan. Dari cinta, pula kita akan mendapatkan kekuatan untuk dapat meraih harta, tahta, dan wanita.

Sebagai catatan akhir dari pembicaraan saya, berikut saya kutipkan salah satutembang macapat Mijil, //dedalane guna klawan sekti/kudu andhap asor/wani ngalah luhur wekasane/tumungkula lamun den dukani/bapang den singkiri/ana catur mungkur//.

Tembang ini memiliki makna mendalam yang bisa dipetik dan diamalkan sebagai orang Jawa, untuk bisa meraih kesuksesan yang mulia sebagaimana diidamkan dalam komunitas sukses mulia ini. Bahwa, kemuliaan itu dicapai melalui kemauan kita untuk rendah hati, berani mengalah tetapi bukan untuk kalah, mau belajar dari kesalahan dan kegagalan, mampu menyingkirkan dan mengalahkan segala rintangan seperti kemalasan pada diri, dan memperbanyak kawan dengan tidak menebar energi negatif/fitnah. Salam SUKSES MULIA!

Sumber: http://www.academia.edu/4017356/SUKSES_BERAWAL_DARI_JEMPOL_


Semoga Bermanfaat
Salam JEMPOL

0 comments:

Post a Comment