Kategori JEMPOL

Search

Type your search keyword, and press enter

Hubungi Robby JEMPOL

Name

Email *

Message *

Ayo Masukkan Bisnis Anda di ...

Daftar Info dan Ide Bisnis JEMPOL

Cara Cepat UMROH bersama Winatour  -  http://www.robbyjempol.com/2016/02/cara-cepat-umroh-bersama-winatour.html Susu Kambing Etawa ETA...

Tuesday, August 13, 2013

Aku Jual Kulitku untuk Duniamu, Kau beri Surat ini untuk Akhiratku

Dipandangnya satu persatu barisan foto dinding di depan tempatnya ia berdiri. Rasanya baru kemarin, Busyro (57 tahun) menggandeng tangan kecil anak sulungnya ke sekolah.

Kini si sulung yang dulu merengek karena harus ditinggalkan pada hari pertama belajar, sudah menjadi seorang pilot maskapai penerbangan internasional. rasa bangga pun menghujani perasaannya. Buah perjuangan bersama istri pada awal-awal merintis usaha keluarga menjadi nostalgia indah setiap menyaksikan gagahnya sang pilot.

Bekerja dibidang kontraktor, keadaan keuangan Pak Busyro memang naik turun. Perjuangan tak kalah hebat adalah saat menguliahkan anak kedua. Menyediakan uang 2000 USD tiap bulan untuk biaya hidup dan kuliah di sebuah Universitas terkenal di Amerika pada saat krisis moneter sama dengan bunuh diri. Namun Pak Busyro tak menyerah begitu saja.

Jangankan rumah, kalau pun saya harus jual kulit tangan ini, saya rela, yang penting anakku jadi orang !”
ujarnya sambil mencubit kulit tangan 15 tahun yang lalu.

Ya, memang pada akhirnya Pak Busyro menjual rumah. Sebuah usaha tak percuma untuk mencetak seorang kandidat General Manager pabrik rokok ternama. Perjuangan belum selesai, mereka masih punya mimpi menelorkan manusia sukses lagi, si Nancy (calon dokter) dan Andre yang masih duduk di kelas 4 SD.

Performance Day
Kalau bisa, Busyro tidak akan memenuhi undangan acara sekolah Andre Sabtu besok. Bosan rasanya sudah puluhan kali menyaksikan performance show dari anak pertama hingga keempatnya. Paling juga begitu-begitu saja. Anak tampil kedepan, kita pura-pura bangga, tepuk tangan, maju ke panggung, kemudian dilanjutkan dengan peluk cium yang didokumentasikan. Bujukan raya sang istri karena takut dicap kurang memberi perhatian pada anak berhasil memaksa Busyro untuk tetap berangkat walau dengan langkah yang berat.

Hari yang membosankan pun tiba. karena saking hafal, Busyro mampu mengucapkan susunan acara sebelum MC membacakan. Semua di luar kepala. Habis ini apa, setelah itu apa. Tak ada yang istimewa, kecuali tontonan konyol yang menjenuhkan menurutnya. Si A baca puisi, tepuk tangan, orang tua ke depan. Si B main piano, tepuk tangan, ibunya ke depan. Begitu dan seterusnya.

Sambil memainkan gadget, sekilas Busyro memperhatikan langkah anaknya menuju panggung dari kejauhan.

“Saatnya bersandiwara menjadi bapak yang peduli” begitu pikirnya. Jangankan untuk antusias, bahkan dia tak tahu penampilan apa yang akan dilihatnya.

“Saya ingin ditemani Ustadz Andi !” permintaan Andre yang ditangkap mic, memecah kegaduhan, menarik perhatian penonton termasuk Busyro sendiri. Hingga hampir semua penonton terdiam.

“Memang kenapa Andre ?” teriak gurunya dari bawah panggung

“Miss, tolong saya ingin ustadz Andi di sini” Andre meninggikan suaranya seiring semakin heningnya ruangan. Sementara Busyro hanya bisa meninggikan bahu, isyarat ketidaktahuan ketika istrinya kebingungan pada tingkah putranya.

Lelaki 25 tahunan dengan kopiah hitam muncul di atas panggung.

“Ada apa nak ?”

“Ustadz bawa quran ?”

“Iya”

“Ustadz, saya minta dibantu dikoreksi hafalan Surat Al Kahfi, siapa tahu ada yang salah”

“Masya Allaah ..!!! ” Riuh decak kagum sahut menyahut mengisi ruangan.

“Dia bilang surat apa, Mah ?” bisik Busyro pada Istri

“Tak jelas, sepertinya mamah baru dengar tuh” sang istri menggelengkan kepalanya.

Di usia separuh abad lebih, Busyro dan istri memang belum mampu membaca Quran. Jadi jangankan AL Kahfi, untuk sekedar mengeja a-ba-ta pun masih terlalu kaku di lidah mereka. Walau begitu, Andre beruntung, dia hidup di jaman di mana daya beli adalah kehormatan. Semakin tak masuk akal biaya sekolah, semakin tinggilah status sosial orang tua. Itulah alasan Busyro menyekolahkan Andre di sebuah SDIT favorit.

“Silakan Andre kalau sudah siap” Ustad Andi mulai membuka mushaf.

“Baik ustadz. Alhamdu lillahi al-ladhi “anzala ‘ala ‘abdi-hi al-kitaba wa-lam ya-j‘al la-hu ‘iwajan …” Andre mengawali bacaannya. Suara bersih dengan nada tinggi menjadi awal yang begitu berkesan, mirip qori cilik Ahmad Saud yang terkenal. Ruangan yang sebelumnya penuh dengan tawa, musik dan tarian, kini tersulap menjadi tempat yang sejuk dan menenangkan.

“Cukup, sekarang coba dari ayat 20 potong Ustadz Andi kepada Andre yang sudah membacakan 5 ayat.

“In-na-hum “iny ya-zharu ‘alay-kum ya-rjumu-kum “aw yu-’idu-kum fi mil-lati-him wa-lan tu-flihu “idhan “abadan …” Andre melompat hapalannya.

Tak sedikit mata yang mulai basah. Banyak diantaranya yang memejamkan, mencoba membuka hati untuk menikmati ayat demi ayat-ayat agung ini.

“Andre, cukup, coba lompat ke ayat 50 ustadz Andi kembali memotong ketika sudah sampai di ayat 30.

“Wa-“idh qulna lil-mala-“ikati usjudu li-“adama fa-sajadu “il-la “iblisa kana mina al-jin-ni fa-fa-saqa ’an “amri rab-bi-hi “a-fa-ta-t-takhidhuna-hu wa-dhur-riy-yata-hu “awliyaa-“a min duni wa-hum la-kum ‘aduw-wunm bi-“sa lilz-zalimina badalan”

Rahmat ALlah benar-benar turun di siang hari itu. Tak ada kesan tersisa untuk penampilan sebelumnya.

Satu per satu mereka menyembunyikan alat musik dan kostum tarian di bawah kursi. Rasanya malu menyandingkan semua performance dengan penampilan Andre.

“Andre cukup, silakan baca ayat 70 hingga selesai di ayat 110

“Fa-intalaqa hat-ta “idha laqiya ghulaman fa-qatala-hu qala “a-qatalta nafsan zakiy-yatan bi-ghayri nafsin la-qad ji-“ta shay-“an nukran”

Semua kepala menunduk, suara tangisan sudah mulai terdengar sana-sini. Anak-anak yang sudah sibuk dengan semua perlengkapan tampil, hanya bisa menatap nanar Andre, adakah penampilan terbaik selain ini. Lantunan Quran yang begitu indah dari Andre telah membuka hati puluhan orang tua, termasuk Papah dan Mamahnya.

“Qul “in-na-ma “ana basharunm mithlu-kum yuha “ilay-ya “an-na-ma “ilahu-kum “ilahun wahidun fa-man kana ya-rju liqaa-“a rab-bi-hi fal-ya-’mal ‘amalan salihan wa-la yu-shrik bi-‘ibadati rab-bi-hi “ahadan”

“Selesai Ustad ..” Andre menatap mata Andi yang sudah berlinangan air mata. Air mata bangga karena sudah memberikan warisan terindah buat muridnya.

Semua terdiam, semua orang mengatur nafas setelah bacaan indah quran mengoyak-ngoyak hatinya.

“Andre, sampaikan kepada kami semua, apa yang membuat kamu begitu semangat mengahafal surat sepanjang ini” tanya Ustadz Andi sambil menyeka air matanya.

Andre terdiam sejenak.

“Hmm .. Saya ingin…., saya, kakak, dan kedua orang tua saya masuk surga”. Busyro dan istri tak dapat membendung tangisnya mendengar jawaban polos Andre. Semua orang menatap kepadanya.

“Siapa yang membaca Al-Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, akan dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orangtuanya dipakaikan dua jubah kemuliaan yang tidak didapatkan di dunia” lanjut Andre mengutip sebuah hadits.

Semua tersedu-sedu, tanpa komando dari MC, Busyro lari ke tengah panggung memberi peluk dan cium tertulus. Hari yang membosankan kini menjadi hari yang tak terlupakan. Busyro yang selama ini bangga karena memikirkan dunia anak-anaknya, sekarang malu sudah dipikirkan akhiratnya oleh Andre.

Sebuah misi yang seharusnya dia tancapkan untuk semua anak-anaknya.

(Terinspirasi kisah nyata dari guru saya, Ust. Bobby Herwibowo, Lc)

Sumber: http://www.baitul-quran.com/?p=304


Semoga Bermanfaat
Salam JEMPOL